Rabu, 22 April 2009

Evaluasi CIPP

Evaluasi merupakan proses yang menentukan kondisi, dimana suatu tujuan telah dicapai.
Defenisi ini menerangkan secara langsung hubungan evaluasi dengan tujuan suatu kegiatan yang mengukur derajat, dimana suatu tujuan dapat dicapai. Sebenarnya evaluasi juga merupakan proses memahami, memberi arti, mendapatkan dan mengkomunikasikan bagi keperluan pengambil keputusan
Evaluasi program adalah proses untuk mendeskripsikan dan menilai suatu program dengan menggunakan kriteria tertentu dengan tujuan untuk membantu merumuskan keputusan , kebijakan yang lebih baik. Pertimbangannya adalah untuk memudahkan evaluator dalam mendeskripsikan dan menilai komponen-komponen yang dinilai, apakah sesuai dengan ketentuan atau tidak.

Evaluasi Program menurut Prof. Dr. Suharsimi Arikunto (2008:18) adalah upaya untuk mengetahui tingkat keterlaksanaan suatu kebijakan secara cermat dengan cara mengetahui efektifitas masing-masing komponennya.Sedangkan menurut Cronbach (1963) evaluasi program adalah upaya menyediakan informasi untuk disampaikan kepada pengambil keputusan

Ada 4 kemungkinan kebijakan yang dapat dilakukan berdasarkan hasil dalam pelaksanaan sebuah program keputusan
1. Menghentikan program, karena dipandang bahwa program tersebut tidak ada manfaatnya, atau tidak dapat terlaksana sebagaimana diharapkan.
2. Merevisi program, karena ada bagian-bagian yang kurang sesuai dengan harapan (terdapat kesalahan tetapi hanya sedikit.
3. Melanjutkan program, karena pelaksanaan program menunjukan bahwa segala sesuatu sudah berjalan sesuai dengan harapan dan memberikan hasil yang bermanfaat.
4. Menyebarluaskan program (melaksanakan program ditempat-tempat lain atau mengulangi lagi program dilain waktu) karena program tersebut berhasil dengan baik maka sangat baik jika dilaksanakan lagi ditempat dan waktu yang lain


Model Context Input Proces Product (CIPP) merupakan hasil kerja para tim peneliti yang tergabung dalam suatu organisasi komite Phi Delta Kappa USA yang ketika itu diketuai oleh Daniel Stufflebeam (1967) di Ohio State University.
Model Evaluasi ini merupakan model yang paling banyak dikenal dan diterapkan oleh para evaluator.

CIPP Evaluasi Model pada garis besarnya melayani empat macam keputusan :
1. Perencanaan keputusan yang memengaruhi pemilihan tujuan umum dan tujuan khusus.
2. Keputusan pembentukan atau structuring, yang kegiatannya mencakup pemastian stratetgi optimal dan desain proses untuk mencapai tujuan yang telah diturunkan dari keputusan perencanaan.
3. Keputusan implementasi, dimana pada keputusan ini para evaluator mengusahakan sarana prasarana untuk menghasilkan dan meningkatkan pengambilan keputusan atau eksekusi, rencana, metode dan strategi yang hendak dipilih.
4. Keputusan pemutaran (recycling) yang menentukan, jika suatu program itu diteruskan, diteruskan dengan modifikasi dan atau diberhentikan secara total atas dasar kriteria yang ada

A. Evaluasi Konteks (Context)
Evaluasi Konteks adalah upaya untuk menggambarkan dan merinci lingkungan, kebutuhan yang tidak terpenuhi, populasi dan sampel yang dilayani dan tujuan program.
Evaluasi Konteks menghasilkan informasi tentang macam-macam kebutuhan yang telah diatur prioritasnya agar tujuan dapat diformulasikan.
Evaluasi konteks meliputi penggambaran latar belakang program yang dievaluasi, memberikan perkiraan kebutuhan dan tujuan program, menentukan sasaran program dan menentukan sejauh mana tawaran ini cukup responsif terhadap kebutuhan yang sudah diidentifikasi. Penilaian konteks dilakukan untuk menjawab pertanyaan “Apakah tujuan yang ingin dicapai, yang telah dirumuskan dalam program Benar-benar dibutuhkan oleh masyarakat ?”

B. Evaluasi Masukan (Input)
Evaluasi terhadap masukan menyediakan informasi tentang masukan yang terpilih , butir-butir kekuatan dan kelemahan, strategi dan desain untuk merealisasikan tujuan
Evaluasi masukan dilaksanakan dengan tujuan dapat menilai relevansi rancangan program, strategi yang dipilih, prosedur, sumber baik yang berupa manusia (guru, siswa) atau mata pelajaran serta sarana prasarana yang diperlukan untuk mencapai tujuan yang telah ditentukan.
Singkatnya masukan (input) merupakan model yang digunakan untuk menentukan bagaimana cara agar penggunaan sumberdaya yang ada bisa mencapai tujuan serta secara esensial memberikan informasi tentang apakah perlu mencari bantuan dari pihak lain atau tidak. Aspek input juga membantu menentukan prosedur dan desain untuk mengimplementasikan program

C. Evaluasi Proses (Process)
Evaluasi Proses dilaksanakan dengan harapan dapat memperoleh informasi mengenai bagaimana program telah diimplementasikan sehari- hari didalam maupun diluar kelas, pengalaman belajar apa saja yang telah diperoleh siswa, serta bagaimana kesiapan guru dan siswa dalam implementasi program tersebut dan untuk memperbaiki kualitas program dari program yang berjalan serta memberikan informasi sebagai alat untuk menilai apakah sebuah proyek relatif sukses/gagal
Evaluasi proses menunjuk pada pertanyaan “apa” kegiatan yang dilakukan dalam program, “kapan” kegiatan akan selesai, dan “siapa” yang ditunjuk sebagai penanggung jawab program

D. Evaluasi Produk (Product)
Evaluasi produk mengakomodasi informasi untuk meyakinkan dalam kondisi apa tujuan dapat dicapai dan juga untuk menentukan jika strategi yang berkaitan dengan prosedur dan metode yang diterapkan guna mencapai tujuan sebaiknya berhenti, modifikasi atau dilanjutkan dalam bentuk yang seperti sekarang.
Evaluasi produk meliputi penentuan dan penilaian dampak umum dan khusus suatu program, mengukur dampak yang terantisipasi, mengidentifikasi dampak yang tak terantisipasi, memperkirakan kebaikan program serta mengukur efektifitas program.


Keunggulan :
1. CIPP memiliki pendekatan yang holistik dalam evaluasi, bertujuan memberikan gambaran yang sangat detail dan luas terhadap suatu proyek, mulai dari konteknya hingga saat proses implementasi
2. CIPP memiliki potensi untuk bergerak diwilayah evaluasi foemative dan summative sehingga sama baiknyadalam membantu melakukan perbaikan selama program berjalan maupun memberikan informasi final

Kelemahan :
1. Terlalu mementingkan bagaimana proses seharusnya daripada kenyataan di lapangan
2. Kesannya terlalu top down dengan sifat manajerial dalam pendekatannya
3. Cenderung fokus pada rational management ketimbang mengakui kompleksitas realitas empiris



RELATED ARTICLE


0 komentar:

Senin, 7 Juli 2014
Grab this Widget ~ Blogger Accessories